Rapat Kerja Rasa Curhat Bersama Najwa Shihab : Rapat Kerja Pusat XII IPI Yogyakarta

RAPAT KERJA RASA CURHAT BERSAMA NAJWA SHIHAB :

RAPAT KERJA PUSAT XII IPI YOGYAKARTA

Oleh: Irfan M. Nasir, S.IP.*

Rapat Kerja Pusat XXI dan Seminar Ilmiah Nasional Pustakawan Indonesia di Hotel Grand Inna Malioboro Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 4-6 Oktober tahun 2017 menjadi saksi atas perjalanan keberadaan organisasi pustakawan di Indonesia. Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) didirikan pada tanggal 6 Juli 1973 dalam Kongres Pustakawan Indonesia yang diadakan di Ciawi, Bogor, 5-7 Juli 1973. Pada kongres ke XII kali ini, hampir 500 pustakawan hadir, baik pustakawan pusat, daerah maupun perguruan tinggi.

Rapat kerja dan seminar ini adalah pertemuan tahunan dalam suatu organisasi IPI, dan merupakan kesempatan bagi anggota untuk bertemu khususnya dalam upaya meningkatkan kemampuan dan pengetahuan di bidang kepustakawanan. Melalui rapat kerja ini diharapakan agar seluruh kekuatan yang terhimpun pada wadah organisasi profesi ini dapat semakin berfungsi dengan lebih efektif dan professional, sehingga pada gilirannya tidak saja memberikan manfaat yang besar dalam pembangunan di bidang kepustakawanan, tetapi juga berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Rapat kerja ini juga diharapkan mampu menjembatani sekaligus mendorong keberhasilan kegiatan pustakawan dalam berbagai kiat yang dilakukan.

Seminar kali ini pihak panitia menghadirkan beberapa pembicara dengan materi yang berbeda. Namun yang menarik yaitu pada saat sesi ke II yang pembicaranya adalah Duta Baca Indonesia yaitu Najwa Shihab dengan judul materi “Membaca dan Pembentukan Karakter”. Tidak berlebihan memang memilih seorang Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia. Keilmuan, serta pengalamannya yang cukup banyak, bisa menginspirasi banyak orang walau hanya sedikit kata yang disampaikan. Tidak salah memang pepatah mengatakan “semakin tinggi ilmu seseorang, semakin mudah dipahami”.

Ada kalimat sederhana yang Nazwa Shihab sampaikan, beliau hanya bertanya tentang “Perasaan Pustakawan”. sontak banyak yang curhat, jadi seru. Ada yang menyampaikan bahwa “profesinya bukan saja dipandang sebelah mata, sebelah pun hampir tak terlihat”. Tetapi ada juga yang menyampaikan “Jangan rendah diri, bekerja di perpustakaan pintu surga terbuka lebar”.

Kepiawaian Nazwa Shihab dalam beraudiensi cukup mumpuni, mungkin karena beliau sudah lama bergelut di dunia presenter hampir 20 tahun. Dari sekian banyak curhataan dari para pustakawan, beliau hanya menyampaikan beberapa point penting untuk kemajuan perpustakaan serta pengembangan profesi pustakawan. Beliau menyampaikan diantaranya bawah:

1. Literasi perlu waktu yang lama, butuh kebersamaan, karena lari sendiri cepat lelah.

2. Kemajuan teknologi tidak akan mengurangi daya baca, malah harus bisa meningkatkan kreatifitas membaca. Maka dari itu kemampuan pustakawan bukan hanya mengolah, menyusun, dan menyampaikan informasi, tetapi harus lebih dari itu, dimana pustakawan harus mempunyai kemampuan untuk bisa menguasai komunikasi interpersonal serta penguasaan teknologi.

3. Kita harus bangga jadi pustakawan, kalau tidak bangga terus siapa yang harus bangga? sebut Nazwa.

Dari seluruh rangkain kegiatan rapat kerja ini, menurut saya ini yang paling seru, dan peserta hampir tidak ada yang keluar. Para pustakawan antusias mendengarkan pemaparan dari Nazwa Shihab baik tentang kisahnya, maupun tentang pengalamannya selama menjadi Duta Baca Indonesia.

Mengenai pemaparan point ke-2 di atas, benar memang apa yang dikatakan Nazwa Shihab, bahwa seorang pustakawan harus mempunyai hubungan interpersonal yang mumpuni. Sehingga perpustakaan tidak lagi dianggap sebagai gudang buku saja, tetapi lebih dari itu. Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Beliau menyampaikan pengalamannya kuliah di luar negeri, justru kesan pertama yang dirasakan baik itu dengan para pustakawannya.

Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.

Maka dari itu para pustakawan harus mempunyai kemampuan dalam melakukan hubungan interpersonal ini. Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal, yaitu:

Pertama, Komunikasi efektif. Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan antara pemustaka terbangun dalam situasi komunikatif—interaktif dan menyenangkan. Efektivitas komunikasi sangat ditentukan oleh validitas informasi yang disampaikan dan keterlibatan dalam memformulasikan ide atau gagasan secara bersama. Bila berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan pandangan akan membuat gembira, suka dan nyaman. Sebaliknya bila berkumpul dengan orang atau kelompok yang benci akan membuat tegang resah dan tidak enak. Maka tugas pustakawan tidak hanya menjamin tersedianya informasi, tapi juga mampu menghadirkan suasana perpustakaan yang nyaman.

Kedua, Ekspresi wajah. Ekspresi wajah menimbulkan kesan dan persepsi yang sangat menentukan penerimaan individu atau kelompok. Senyuman yang dilontarkan akan menunjukkan ungkapan bahagia, mata melotot sebagai kemarahan dan seterusnya. Wajah telah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Wajah merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam menyampaikan makna dalam beberapa detik raut wajah akan menentukan dan menggerakkan keputusan yang diambil. Kepekaan menangkap emosi wajah sangat menentukan kecermatan tindakan yang akan diambil. Maka semboyan 3S (Senyum, Sapa, Salam) perlu dipelajari betul.

Ketiga, Kepribadian. Kepribadian sangat menentukan bentuk hubungan yang akan terjalin. Kepribadian mengekspresikan pengalaman subjektif seperti kebiasaan, karakter dan perilaku. Faktor kepribadian lebih mengarah pada bagaimana tanggapan dan respon yang akan diberikan sehingga terjadi hubungan. Tindakan dan tanggapan terhadap pesan sangat tergantung pada pola hubungan pribadi dan karakteritik atau sifat yang dibawanya. Maka dari itu, ke depan jangan sampai kata “perpustakaan adalah tempat buangan” tidak lagi terdengar. Jadi menempatkan orang untuk bekerja di perpustakaan betul-betul yang professional.

Keempat, Stereotyping. merupakan cara yang banyak ditemukan dalam menilai orang lain yang dinisbatkan pada katagorisasi tertentu. Cara pandang ini kebanyakan menimbulkan prasangka dan gesekan yang cukup kuat, terutama pada saat pihak-pihak yang berkonflik sulit membuka jalan untuk melakukan perbaikan. Individu atau kelompok akan merespon pengalaman dan lingkungan dengan cara memperlakukan anggota masyarakat secara berbeda atau cenderung melakukan pengelompokan menurut jenis kelamin, cerdas, bodoh, rajin, atau malas. Penggunaan cara ini untuk menyederhanakan begitu banyak stimuli yang diterimanya dan merupakan pengkatagorian pengalaman untuk memperoleh informasi tambahan dengan segera. Maka dalam hal ini pustakawan harus bersikap sebagai pendengar yang baik.

Kelima, Kesamaan karakter personal. Manusia selalu berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya atau kita cenderung menyukai orang lain, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita, dan jika menyukai orang, kita ingin memilih sikap mereka yang sama. Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai,norma, aturan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tingkat sosial ekonomi, budaya, agama, ideologis, cenderung saling menyukai dan menerima keberadaan masing-masing.

Keenam, Daya tarik. Dalam hukum daya tarik dapat dijelaskan bahwa cara pandang orang lain terhadap diri individu akan dibentuk melalui cara berfikir, bahasa dan tindakan yang khas. Orang pintar, pandai bergaul, ganteng atau cantik akan cenderung ditanggapi dan dinilai dengan cara yang menyenangkan dan dianggap memiliki sifat yang baik. Meskipun apa yang disebut gagah, cantik atau pandai bergaul belum disepakati, namun sebagian relatif menerima orang sebagai pandai cantik atau gagah. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik seseorang baik fisik maupun karakter sering menjadi penyebab tanggapan dan penerimaan personal. Orang-orang yang memiliki daya tarik cederung akan disikapi dan diperlakukan lebih baik, sopan dan efektif untuk mempengaruhi pendapat orang lain. Maka para pustakawan harus menimbulkan kesan pertama begitu menggoda.

Ketujuh, GanjaranSeseorang lebih menyenangi orang lain yang memberi penghargaan atau ganjaran berupa pujian, bantuan, dorongan moral. Kita akan menyukai orang yang menyukai dan memuji kita. Interaksi sosial ibaratnya transaksi dagang, dimana seseorang akan melanjutkan interaksi bila laba lebih banyak dari biaya. Bila pergaulan seorang pendamping masyarakat dengan orang-orang disekitarnya sangat menyenangkan, maka akan sangat menguntungkan ditinjau dari keberhasilan program, menguntungkan secara ekonomis, psikologis dan sosial. Perlu dilakukan minimal 1 kali dalam satu tahun mengadakan penilaian terhadap pengunjung, hal ini dilakukan untuk meningkatkan minat baca.

Kedelapan, Kompetensi. Setiap orang memiliki kecenderungan atau tertarik kepada orang lain karena prestasi atau kemampuan yang ditunjukkannya. Masyarakat akan cenderung menanggapi informasi dan pesan dari orang berpengalaman, ahli dan profesional serta mampu memberikan kontribusi secara intelektual, sikap dan mampu memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Dalam situasi krisis, para pihak yang berkonflik membutuhkan bantuan teknis dan bimbingan dari individu yang dipercaya dan mampu menumbuhkan kerjasama untuk mendorong penyelesaian.

*Pustakawan Pertama UIN SMH Banten

Daftar Pustaka

Buku Panduang Rapat Kerja Pusat XXI dan Seminar Ilmiah Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia tahun 2017, Yogyakarta, 2017

Muhibudin Wijaya Laksana, Psikologi Komunikasi:Membangun Komunikasi yang efektif dan Interaksi Manusia, Pustaka Setia, Bandung, 2015

Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000

Sumber : dpk.bantenprov.go.id